SORRY

Roda kehidupan memang terus berputar, sampai akhirnya roda itu harus berhenti. Berhenti di titik terendah selama hidup ini. Sebelumnya aku tidak pernah membayangkan atau bahkan mempersiapkan diri untuk berada di titik ini, siapa yang akan siap? Siapa yang mau berada dikehidupan terendahnya? Hingga akhirnya aku benar-benar hilang kendali. Aku menyalahkan segala keputusan yang sudah aku buat sebelumnya, yang sudah membuat kekacauan di keluarga ku, yang membuat aku menutup diri dari lingkungan ku, bukan penyesalan, tetapi bukan juga suatu pembelaan. Aku hanya ini ingin meraih mimpi ku, meski saat ini Tuhan belum mengizinkannya. Segala hal yang sudah ku rencanakan untuk mimpiku, semua tak ada yang berhasil. Lagi lagi aku menyalahkan diri, dan mengutuk mimpiku.

Satu hal yang tidak bisa dituliskan, satu hal yang sangat membuat kami (read: keluarga) hancur. Membuat kami silih berganti harus merasakan sakit termakan pikiran. Aku malu, aku sangat malu karena harus menyulitkan mereka. Dan aku merasa akan sangat egois jika aku masih bisa main-main di luar sana.

Berikan aku waktu untuk berdamai dengan keadaanku saat ini.

Hai Sahabat

Ketika ada yang sama sakit nya dengan kehilangan cinta kekasih, bahkan rasanya lebih sakit dari diputusin pacar pas lagi sayang sayangnya.
Kehilangan waktu dari sahabat. Iya, waktu mereka memang bukan milik kita seutuhnya. Kita memiliki kesibukan dan rutinitas kehidupan nya masing-masing. dan untuk menyatukan 7 pemikiran yang aneh-aneh itu gak mudah. Gak heran kita masih sering kecewa, kesal, sakit hati sama sahabat kita sendiri atau sama diri kita sendiri?

Waktu tetap berjalan dan enggan untuk berhenti. Waktu masih memberikan kita ruang untuk sekedar mengingat kebersamaan kita. Tapi kita? Tetap sibuk dan mengganggap waktu tak pernah memberi kita kesempatan untuk berjumpa.

Apa kita masih terlalu egois? Apa ada yang salah dengan persahabatan ini? Masih diam-diam menyimpan rasa tak suka diantara kita. Kita emang gak pernah untuk menyatukan 7 pemikiran itu sebagai intropeksi diri masing-masing. Mungkin bukan tidak pernah, tetapi lebih tidak terima jika di koreksi oleh orang lain. Egois? Iya. Kapan kita bisa berubah? Kapan kita berfikiran dewasa? Ngambek, marah, saling benci boleh. Asal memberikan dampak yang baik kedepan nya. Hanya untuk menegur kesalahan nya aja. Bukan untuk memusuhi nya.

Katanya Kita Sahabat? Buktiin dong 🙂

 

To.B From.B

 

Untitled

aku mulai senang memperhatikanmu
setiap kata yang terucap dari bibir mu, setiap lelucon yang biasa kamu lontarkan untuk membuat sekelilingmu tertawa
kamu memang bukan pelawak, tapi kamu lucu

aku senang memperhatikan setiap langkah kakimu
kemana kamu melangkah, ingin rasanya aku disampingmu menemani setiap langkahmu
mungkin kamu tidak menyadarinya, kalau aku mulai memperhatikan setiap inci dari diri mu

aku lebih memilih diam untuk rasa ini, bukan karna aku pengecut, tapi karna aku tak ingin kehilangan tawa yang selalu menghiasi pertemuan kita
aku takut kalau rasa yang kumiliki untukmu akan menghancurkan suasana bahagia ini, walaupun sekedar teman

dan aku lebih memilih diam karna aku tau, kamu sedang menaruh hatimu dengan dia teman ku.

Menanti Cintamu

aku tak pernah berharap kamu akan membaca seluruh tulisan ku. berbanding kebalik dengan aku yang selalu memantau apa saja isi blogmu. Walaupun aku tau, tidak ada kisahku di sana. Dan aku juga tak tau dimana kisah kita kamu simpan. Dihati? Atau.. bahkan kamu sudah lenyapkan kisah kita. Entah

aku senang menulis tentangmu, menulis tentang kita yang dulu pernah punya kisah, walaupun aku harus merasa sangat tersayat untuk mengenang kembali kisah itu, yang sederhana namun sangat meninggalkan jejak di setiap langkah yang pernah kita lalui.

sampai saat ini aku masih belum mampu melupakan dirimu, meninggalkan cintaku padamu, dan sampai saat ini aku hanya mampu berpura-pura acuh denganmu. Iya, aku hanya mampu berpura-pura saja. Tidak seperti kamu yang nyata dan benar-benar telah pergi dariku. Dan benar-benar sudah tak mengharapkan ku. Sangat berbeda dengan kata hatiku.

hampir dua tahun berlalu, kamu yang sudah tak di sampingku, kamu yang dulu tak pernah absen untuk membuat ku tertawa, kamu yang berbeda dari siapapun yang pernah aku kenal, kamu yang bisa membuat kita memiliki kisah menarik, dan aku yang selama ini enggan untuk berhenti mencintaimu. Biarkan aku lelah, dan biarkan aku menantimu dengan cinta yang seutuhnya masih milikmu.

 

Kata Untukmu

Aku masih menikmati kesendirian ku, tanpamu.. Rindu? Yaa, pasti. Apalagi saat ini aku benar-benar tak lagi tahu kabar tentangmu. Aku benar-benar sudah kehilanganmu.
Aku masih ingin menulis cerita tentangmu, menulis bahagia bersamamu, tapi.. pada kenyataan nya, aku tersadar, yang harus nya ku tulis bagaimana rasa kehilanganmu, bagaimana hatiku tak lagi bersama mu, bagaimana raga ini sudah tak bisa bersanding di sampingmu. Aku Rindu…

Masih pantaskah aku bisa mendampingi mu lagi? Masih pantaskah aku untuk berusaha membuat mu bahagia denganku? Aku ingin menemani harimu, seperti dulu..

Apabila kau akan bertanya masihkah ada rasa itu? dengan yakin akan kukatakan Yaa!! hati ini masih milikmu, sampai saat ini, dan entah sampai kapan hatiku akan kau miliki.

Sebenarnya siapa yang kau cari? Apa yang kau inginkan?
Boleh kah aku menunggumu? Menunggu sampai kau menatap ku kembali. Aku tak akan pergi dari tempat ku beranjak saat ini. Aku tak akan meninggalkan bayangku sendiri disini.
Aku? Aku…. akan menunggumu kembali untuk menemani aku dan bayangku seperti dulu.

Dan satu yang perlu kamu tahu.
Ketulusan hati akan abadi sampai mati.

 

 

 

Pal

Masih Kamu (2)

Masih belum lelah menulis tentangmu, masih belum terbangun menghayal bersamamu, dan kamu yang masih menjaga hati ku sampai saat ini. Aku memang bukan yang kamu harapkan bisa disisimu. Tapi apa kamu tau, 4 tahun yang lalu kita mulai berkenalan. Hal yang tak mungkin aku bisa lupakan begitu saja, tapi tidak untukmu. Perlahan aku mencoba beranjak pergi dari rasa ini, rasa yang hanya aku miliki sendiri. Namun semakin aku mencoba pergi semakin menguatkan rasa ku untuk tetap menyayangimu. Aku seakan terbunuh oleh rasa ku sendiri.

Seandainya aku bisa mengatakan padamu bahwa aku rindu, sangat rindu dirimu. Ingin rasanya bisa bertemu mu lagi, hanya untuk sekedar berbincang melepas rindu ini. hmm.. apakah mungkin?

Pal. 211211-211215

Jatuh Cinta (lagi)?

Hal ini kembali terulang, saat aku terpaku pada sepasang mata itu. Entah dimana segi keindahan nya. Tatapan yang sebenarnya biasa saja tapi mampu mengukir kesan manis di hati. Apakah aku jatuh cinta pada pandangan pertama (lagi)? Ah, ini hanya rasa suka sesaat saja pikirku. Obrolan saat berjumpa, pesan singkat via media sosial, tanpa arti saat itu. Sepekan berlalu, aku rindu kebiasaan itu. Aku semakin ingin bisa sesering mungkin berjumpa dengan nya. Waktu beberapa jam dalam sepekan tidak dapat mengobati rindu. Rindu hatiku. Iyaa, ternyata aku memiliki rasa yang aku sendiri lupa bagaimana cara mengungkapkan nya. Apa aku harus menyampaikan rasa ini padanya? Atau aku tetap mengunci rapat bibirku, untuk menyimpan rapi rasa cinta ku padamu?

Masih Kamu

Masih kamu, masih dirimu yang menjadi peran utama dalam tulisan ini
Tanpa kamu sadari, kini tepat 3 tahun yang lalu kita memulai perkenalan. Perkenalan sederhana, seperti kesederhaan kamu yang membuat aku begitu terpana dan seketika luluh selepas menatapmu.
Entah sihir apa yang kamu kutukan kepadaku yang membuat aku begitu menggilaimu, begitu mendambakanmu, begitu menyayangimu dan begitu mencintaimu hingga detik ini.
Aku tahu kini kita tak bisa lagi selalu bersama, tak bisa lagi berbagi cerita setiap saat, bahkan untuk sekedar berbincangpun kini terasa sulit, tetapi apakah semua itu membuat perasaan ku hilang begitu saja? Membuat ku seketika acuh denganmu?
Jelas Tidak.. apapun yang kini terjadi diantara kita, percayalah rasa ini masih utuh untukmu, ruang hati ini masih terisi nama mu, dan pikiran ini masih terbayang akan kamu.
Walaupun pada akhirnya aku harus menelan kenyataan pahit. Kamu dengan dirinya. Dan entah hubungan apa yang terjalin antara kalian. Tetapi aku cukup mengenal kamu. Karena aku dan kamu dahulu pernah menjadi KITA tidak secara instan. Kita melewati banyak fase dan proses..

Selama 3tahun hanya kamu yang menjadi tokoh utama di setiap ceritaku. Hanya kamu yang menjadi satu satu nya pilihan di hatiku. Hanya kamu yang membuat aku tak bisa mencintai laki-laki lain. Dan hanya kamulah yang mampu membuat hatiku hancur lebur tak bersisa

Saat ini aku hanya bisa mencintaimu dalam doa ku, tak berharap berbalas namun ku yakin doa ku selalu menyertai setiap hembusan nafasmu

211211-211214
Palđź’•

Ketika Aku Merindukan Kasih Sayangmu

Aku telah berusaha untuk bangkit. aku telah memulai untuk berjalan. walau hanya setapak yang telah kulalui. aku terhenti. langkah ku tertahan oleh kenangan masa laluku. ia menahan ku, bukan, bukan menahan ku. namun hatiku yang masih tertinggal dalam relung hatinya. aku tak akan bisa meneruskan langkahku sedang hatiku masih berada disana. di dirinya. di hatinya. lalu apa yang harus ku perbuat? keterhentianku membuat aku merindukan sosokmu lagi. sosok yang baru saja pergi meninggalkan ku. dengan sedikit alasan yang kamu berikan. yang membuat ku sangat tak rela untuk melepasmu. Ah apa mungkin ini juga karna kesalahanku yang tak pernah kau sampaikan padaku? Tapi mengapa? Mengapa kamu lebih memilih untuk diam? andai kamu mengatakan apa kesalahan ku saat itu. aku kan berusaha tuk merubahnya. Yah, tidak sesempurna itu. tapi setidaknya, aku menjadi lebih baik dari yang kini kamu lihat. kini aku hanya mampu untuk diam. diam dalam kesendirianku. diam dalam kesedihanku. diam dalam tangisanku. dan diam dalam hatimu. Lalu bagaimana dengan aku? Dengan hatiku? Dengan perasaanku? Dengan ketulusanku? yang semata-mata hanya untukmu. kini aku merasakan rindu itu. rindu padamu. Iya, merindukan kasih sayang darimu. merindukan pelukan hangat tubuhmu. aku rindu kehangatan yang biasa kamu berikan untukku. Ahh. semua itu sungguh menyesakkan hatiku. hatiku yang sangat rapuh akan cinta. Percayalah, bahkan kini aku rindu akan tawaku sendiri, aku rindu senyumku sendiri. aku hanya mampu melihat keceriaan itu dalam cermin. tapi bukan dari dalam hatiku.

 

 

Pal.

Lalu AKu?

rasa ini kini hanya milik ku sendiri. aku hanya dapat membagi ini dengan bayang mu. bukan kamu. tapi sosok yang dulu pernah menjadi kamu. lalu aku? iya aku tanpa kamu. kini aku hanya dapat berjalan sendiri. kini aku dan kamu tak bisa lagi bergandeng tangan untuk mencapai jalan itu. aku tak bisa mencari sosok kamu lagi. tapi hatiku masih terjebak di dalam tubuhmu. sebagian raga ku masih mengikuti mu. lalu aku? hatiku tak lagi menyatu dengan mu. ragaku tak lagi bersanding dengan ragamu. lalu aku? apakah aku harus terus berjalan tanpamu? apakah aku harus mencari cahaya itu sendiri? tanpa kamu? kupikir aku tak mampu. aku ingin terus menapaki kehidupan bersamamu. kamu yang selalu bersedia menjadi tempat bersandarku. saat aku lelah. saat aku terjatuh. saat aku tak tau lagi harus berbuat apa. aku butuh kamu. kamu penopang ku. kamu pemberi kekuatan ku. mungkin ini terdengar berlebihan. tapi itulah yang kurasa. aku tak ingin pergi darimu. aku tak ingin kehilanganmu. aku masih membutuhkan mu. tidak untuk saat ini saja. tapi sampai waktu yang tak bisa kutentukan. hingga hatiku tak bisa lagi memanggil namamu. mungkin disaat itulah aku akan sanggup berjalan sendiri. Tapi tidak Saat Ini. Tidak untuk Sekarang. aku masih menyayangimu, aku masih mencintaimu. aku masih ingin dalam pelukan mu. aku masih ingin bisa menggenggam jemari mu. apakah saat ini aku hanya dapat bermimpi untuk tetap bersamamu? waktu yang ‘kan menjawab semua nya. waktu yang akan membawa kita kembali bersama. aku berharap, hatimu tak sekeras itu, aku harap kamu masih bisa merasakan kasih dan sayangku. aku harap kamu masih membuka hatimu untuk ku kembali. 

 

Pal.