Tiga Desember

Alarm ini membangunkan tubuh lelap ku. Ku lihat layar handphone yang sudah membangunkan ku di tengah malam.

3 Desember 2016.

Aku bahkan lupa menghapus note di kalender handphone.

Hmm. Hari ini adalah hari special untukmu. Hari dimana 20 tahun yang lalu lahir seorang bayi laki-laki dari rahim ibunya.
Kini kamu telah tumbuh dewasa. Kamu telah memberikan kebahagiaan untuk keluarga dan sahabat mu.

Bolehkah aku menyampaikan sesuatu untukmu di hari special ini?

Jangan pernah kamu tinggalkan orang – orang yang menyayangimu.
Jangan pernah kamu membenci orang – orang yang sudah melukai perasaanmu.
Dan jangan pernah kamu melupakan orang – orang yang pernah menjadi bagian hidupmu.

Karena mereka semua pernah menjadi “rumah” yang selama ini kamu rindukan.

Selamat Ulang Tahun.

Aku harap Tuhan mengirimkan malaikat untuk menjagamu Saat aku tak bisa berada di sisimu. Semoga kamu diberikan kesehatan agar bisa menjalani seluruh rutinitasmu dan semangat untuk terus membahagiakan orangtua dan adikmu.

 

F.

 

Hai Sahabat

Ketika ada yang sama sakit nya dengan kehilangan cinta kekasih, bahkan rasanya lebih sakit dari diputusin pacar pas lagi sayang sayangnya.
Kehilangan waktu dari sahabat. Iya, waktu mereka memang bukan milik kita seutuhnya. Kita memiliki kesibukan dan rutinitas kehidupan nya masing-masing. dan untuk menyatukan 7 pemikiran yang aneh-aneh itu gak mudah. Gak heran kita masih sering kecewa, kesal, sakit hati sama sahabat kita sendiri atau sama diri kita sendiri?

Waktu tetap berjalan dan enggan untuk berhenti. Waktu masih memberikan kita ruang untuk sekedar mengingat kebersamaan kita. Tapi kita? Tetap sibuk dan mengganggap waktu tak pernah memberi kita kesempatan untuk berjumpa.

Apa kita masih terlalu egois? Apa ada yang salah dengan persahabatan ini? Masih diam-diam menyimpan rasa tak suka diantara kita. Kita emang gak pernah untuk menyatukan 7 pemikiran itu sebagai intropeksi diri masing-masing. Mungkin bukan tidak pernah, tetapi lebih tidak terima jika di koreksi oleh orang lain. Egois? Iya. Kapan kita bisa berubah? Kapan kita berfikiran dewasa? Ngambek, marah, saling benci boleh. Asal memberikan dampak yang baik kedepan nya. Hanya untuk menegur kesalahan nya aja. Bukan untuk memusuhi nya.

Katanya Kita Sahabat? Buktiin dong 🙂

 

To.B From.B

 

Untitled

aku mulai senang memperhatikanmu
setiap kata yang terucap dari bibir mu, setiap lelucon yang biasa kamu lontarkan untuk membuat sekelilingmu tertawa
kamu memang bukan pelawak, tapi kamu lucu

aku senang memperhatikan setiap langkah kakimu
kemana kamu melangkah, ingin rasanya aku disampingmu menemani setiap langkahmu
mungkin kamu tidak menyadarinya, kalau aku mulai memperhatikan setiap inci dari diri mu

aku lebih memilih diam untuk rasa ini, bukan karna aku pengecut, tapi karna aku tak ingin kehilangan tawa yang selalu menghiasi pertemuan kita
aku takut kalau rasa yang kumiliki untukmu akan menghancurkan suasana bahagia ini, walaupun sekedar teman

dan aku lebih memilih diam karna aku tau, kamu sedang menaruh hatimu dengan dia teman ku.

Menanti Cintamu

aku tak pernah berharap kamu akan membaca seluruh tulisan ku. berbanding kebalik dengan aku yang selalu memantau apa saja isi blogmu. Walaupun aku tau, tidak ada kisahku di sana. Dan aku juga tak tau dimana kisah kita kamu simpan. Dihati? Atau.. bahkan kamu sudah lenyapkan kisah kita. Entah

aku senang menulis tentangmu, menulis tentang kita yang dulu pernah punya kisah, walaupun aku harus merasa sangat tersayat untuk mengenang kembali kisah itu, yang sederhana namun sangat meninggalkan jejak di setiap langkah yang pernah kita lalui.

sampai saat ini aku masih belum mampu melupakan dirimu, meninggalkan cintaku padamu, dan sampai saat ini aku hanya mampu berpura-pura acuh denganmu. Iya, aku hanya mampu berpura-pura saja. Tidak seperti kamu yang nyata dan benar-benar telah pergi dariku. Dan benar-benar sudah tak mengharapkan ku. Sangat berbeda dengan kata hatiku.

hampir dua tahun berlalu, kamu yang sudah tak di sampingku, kamu yang dulu tak pernah absen untuk membuat ku tertawa, kamu yang berbeda dari siapapun yang pernah aku kenal, kamu yang bisa membuat kita memiliki kisah menarik, dan aku yang selama ini enggan untuk berhenti mencintaimu. Biarkan aku lelah, dan biarkan aku menantimu dengan cinta yang seutuhnya masih milikmu.

 

Kata Untukmu

Aku masih menikmati kesendirian ku, tanpamu.. Rindu? Yaa, pasti. Apalagi saat ini aku benar-benar tak lagi tahu kabar tentangmu. Aku benar-benar sudah kehilanganmu.
Aku masih ingin menulis cerita tentangmu, menulis bahagia bersamamu, tapi.. pada kenyataan nya, aku tersadar, yang harus nya ku tulis bagaimana rasa kehilanganmu, bagaimana hatiku tak lagi bersama mu, bagaimana raga ini sudah tak bisa bersanding di sampingmu. Aku Rindu…

Masih pantaskah aku bisa mendampingi mu lagi? Masih pantaskah aku untuk berusaha membuat mu bahagia denganku? Aku ingin menemani harimu, seperti dulu..

Apabila kau akan bertanya masihkah ada rasa itu? dengan yakin akan kukatakan Yaa!! hati ini masih milikmu, sampai saat ini, dan entah sampai kapan hatiku akan kau miliki.

Sebenarnya siapa yang kau cari? Apa yang kau inginkan?
Boleh kah aku menunggumu? Menunggu sampai kau menatap ku kembali. Aku tak akan pergi dari tempat ku beranjak saat ini. Aku tak akan meninggalkan bayangku sendiri disini.
Aku? Aku…. akan menunggumu kembali untuk menemani aku dan bayangku seperti dulu.

Dan satu yang perlu kamu tahu.
Ketulusan hati akan abadi sampai mati.

 

 

 

Pal

Masih Kamu (2)

Masih belum lelah menulis tentangmu, masih belum terbangun menghayal bersamamu, dan kamu yang masih menjaga hati ku sampai saat ini. Aku memang bukan yang kamu harapkan bisa disisimu. Tapi apa kamu tau, 4 tahun yang lalu kita mulai berkenalan. Hal yang tak mungkin aku bisa lupakan begitu saja, tapi tidak untukmu. Perlahan aku mencoba beranjak pergi dari rasa ini, rasa yang hanya aku miliki sendiri. Namun semakin aku mencoba pergi semakin menguatkan rasa ku untuk tetap menyayangimu. Aku seakan terbunuh oleh rasa ku sendiri.

Seandainya aku bisa mengatakan padamu bahwa aku rindu, sangat rindu dirimu. Ingin rasanya bisa bertemu mu lagi, hanya untuk sekedar berbincang melepas rindu ini. hmm.. apakah mungkin?

Pal. 211211-211215

Jatuh Cinta (lagi)?

Hal ini kembali terulang, saat aku terpaku pada sepasang mata itu. Entah dimana segi keindahan nya. Tatapan yang sebenarnya biasa saja tapi mampu mengukir kesan manis di hati. Apakah aku jatuh cinta pada pandangan pertama (lagi)? Ah, ini hanya rasa suka sesaat saja pikirku. Obrolan saat berjumpa, pesan singkat via media sosial, tanpa arti saat itu. Sepekan berlalu, aku rindu kebiasaan itu. Aku semakin ingin bisa sesering mungkin berjumpa dengan nya. Waktu beberapa jam dalam sepekan tidak dapat mengobati rindu. Rindu hatiku. Iyaa, ternyata aku memiliki rasa yang aku sendiri lupa bagaimana cara mengungkapkan nya. Apa aku harus menyampaikan rasa ini padanya? Atau aku tetap mengunci rapat bibirku, untuk menyimpan rapi rasa cinta ku padamu?